Perasaan malu itu dari Allah swt, bukan dari mahluk. Dialah yang ada sebelum segala sesuatu itu ada, tetapi kamu malu kepada mahluk dan berani menentang Allah, padahal Dia Maha Pemurah dan Mahakaya. Kebiasaan Dia adalah pemurah, sedang kebiasaan selain Dia adalah kikir. Kembalilah kamu dengan segala permintaanmu kepada Allah swt dengan segala ciptaan-Nya. Jagalah batas-batas agama-Nya serta tetaplah kamu bertakwa kepada-Nya, maka Dia akan memberi petunjuk kepadamu. Mohonlah petunjuk kepada-Nya, menghadaplah kepada-Nya dan jangan hiraukan keindahan dunia dan akhirat. Sesungguhnya bagianmu dari keduanya tidak akan terlewatkan. Jika Dia tidak menunjuki hatimu, maka kamu seperti hewan yang tidak berakal. Orang yang dipimpin dengan akalnya untuk taat kepada Allah akan mengerti kedudukan akalnya. Maka dengan akal itu kenalilah dirimu dan Tuhanmu.
Akal dan perasaan malu, keduanya merupakan harta yang sangat tinggi nilainya. Ilmu yang tidak diamalkan, akal yang tidak digunakan, dan hidup yang tidak menguntungkan, adalah seperti rumah yang tidak ditempati, harta yang tidak diketahui, dan makanan yang tidak disantap. Bangunlah dari kelalaianmu. Basuhlah mukamu dengan air kesadaran lalu perhatikanlah sikapmu, seorang muslim atau kafir, mukmin atau munafik, tauhid atau musyrik, orang pamer atau pengumpat. Allah swt tidak akan memperdulikan apakah kamu rela atau tidak, sebab bahaya dan manfaat keduanya akan kembali kepadamu.. Kalau Dia tidak berbuat baik kepada kita, pasti kita akan binasa. Jika kita menghadap kepada ciptaan Allah, niscaya kita akan hancur.
Dunia ini akan lenyap, umurmu akan habis, dan kehidupan akhirat telah dekat kepadamu, tetapi keinginanmu tidak tertuju kesana, bahkan keinginanmu tertuju kepada harta benda dan mengumpulkannya. Kamu mengkufuri nikmat Allah swt. Jika kamu mendapat keburukan dari-Nya, kamu meronta-ronta, jika mendapat kebajikan, kamu merahasiakannya. Jika kamu menyembunyikan nikmat Allah swt. Dan tidak mau mensyukurinya, maka Dia akan mengambil kenikmatan-Nya dari dirimu. Sebagaimana yang disabdakan Nabi saw. “ Jika Allah swt. Memberi nikmat kepada hamba-Nya, Dia suka jika nikmat itu diperlihatkan kepada-Nya.”
Wahai orang beriman, jika kamu menghendaki kebajikan dunia akhirat, amalkan ilmumu dan ilmu orang lain. Wahai orang kaya, jika kamu menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat, santunilah orang-orang fakir dengan hartamu.
“Allahuma ya Allah, lunakkan hati kami dalam menerima keputusan dan takdir-takdir-Mu.”
Minggu, 07 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar