Rabu, 07 April 2010

PIKIRAN.....

BoLeh jadi pikiran itu tertuju kepada suatu urusan yang berkaitan dengan agama dan bisa jadi berkaitan dengan selain agama. Namun yang kami maksudkan adalah yang berkaitan dengan agama. Uraian tentang masalah ini cukup panjang lebar. Untuk itu manusia bisa melihat empat perkara : ketaatan, kedurhakaan, hal-hal yang merusak dan hal-hal yang menyelamatkan. Jangan lalai terhadap diri sendiri dan jangan lalaikan sifat-sifatmu yang menjauhkan diri dari Allah swt. dan yang mendekatkan dirimu kepada-Nya.

Setiap hamba harus memiliki daftar, yang didalamnya tertulis sifat-sifat yang merusak, sifat-sifat yang menyelamatkan, kefurhakaan dan ketaatan. Dia harus menunjukkan semua itu kepada dirinya sendiri. Cukup bagi dirinya untuk melihat sepuluh macam perusak. Jika dia selamat dari sepuluh sifat ini, tentu dia juga selamat dari sifat-sifat yang lain. Yaitu, Bakhil, takabur, ujub, riya, dengki, amarah, menjelek-jelekan makanan, menjelek-jelekan apa yang terjadi, cinta kepada harta dan cinta kepada tahta.

Hal-hal yang menyelamatkan juga ada sepuluh macam, yaitu: Menyesali dosa, sabar dalam menghadapi cobaan dan musibah, ridha terhadap qadha', mensyukuri nikmat, menyelaraskan ketakutan dan harapan, zuhud di dunia, ikhlas dalam amal, ahlak yang baik, mencintai Allah dan tunduk.

Inilah dua puluh perkara, sepuluh tercela dan sepuluh lagi terpuji. Selagi seseorang bisa menahan diri dari salah satu hal-hal yang tercela, berarti dia mencoret hal yang tercela itu dari daftarnya, tidak memikirkannya dan bersyukur kepada Allah swt. karena yang demikian itu. Hendaknya dia juga menyadari bahwa yang demikian itu tidak terjadi kecuali berkat taufiq Allah swt. dan pertolongan-Nya. Kemudian dia akan berhadapan dengan sembilan sisanya. Begitulah yang dia lakukan terhdap masing-masing diantara perkara-perkara tersebut.

Dia juga dituntut untuk memiliki sifat-sifat yang menyelamatkan. Jika dia memiliki salah satu dari sepuluh sifat-sifat itu, seperti taubat atau penyesalan umpamanya, berarti telah menetapkan nya dalam daftar nya, lalu dia dituntut untuk menyibukkan dalam sembilan sisanya. Mereka yang menganggap dirinya termasuk dalam golngan orang-orang yang shalih harus memunculkan didalam daftarnya kefurhakaan-kedurhakaan yang nyata, seperti makan-makanan yang syubhat, menggunjing dan mengadu domba dengan lidah, memuji diri sendiri, berlebih-lebihan dalam memberikan loyalitas kepada penguasa dan memerangi musuh serta meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar.

siapa yang menganggap dirinya termasuk orang-orang yang shalih, tentu tidak akan selamat dari berbagai macam kedurhakaan semacam ini. Selagi anggota tubuh tidak terbebas dari dosa, maka tidak mungkin baginya untuk bisa mengisi hati dan mensucikannya. Setiap orang tentu memiliki sifat yang menonjol dari sifat-sifat ini. Karena dia harus mencari dan memikirkannya, sebagai contoh adalah ulama yang hati-hati (wara'). Biasanya dia tidak terbebas dari keinginan untuk menonjolkan dirinya, mencari ketenaran dan pujian, entah karena kegiatannya dalam mengajar atau menyampaikan dakwah.

Siapa yang keadaannya seperti itu, berarti dia berhadapan denga bencana yang besar. Tidak ada yang bisa selamat dari sifat ini kecuali shiddiqun. Minimal mereka memiliki sifat cemburu seperti kecemburuan para wanita. Semuaitu termasuk sifat-sifat yang merusak didalam hati, yang dikiranya sebagai sesuatu yang menyelamatkan. Sehingga dengan begitu diapun termasuk orang-orang yang tertipu. Siapa yang merasa pada dirinya ada sifat-sifat seperti ini, maka hendaklah dia menyendiri dan mengasingkan diri, tidak perlu mencari ketenaran dan meninggalkan dunia fatwa.

Para sahabat juga meninggalkan fatwa, dan masing-masing diantara mereka suka jika ada saudaranya yang mau mewakilinya. Dalam keadaan seperti itu dia harus menjauhi syetan yang berupa manusia. Mereka berkata, " Banyak orang yang membutuhkan ilmu." Dia bisa menjawab," Islam tidak membutuhkan diriku. Andaikan aku mati, Islam tidak akan binasa, Aku perlu menata hatiu sendiri."
Maka hendalklah pikiran orang yang berilmu lebih tertuju kepada sifat-sifat yang tersembunyi ini. Kita memohon kepada Allah swt. agar memperbaiki hati kita dan melimpahkan taufiq-Nya terhadap apa yang diridhai-Nya

Jumat, 02 April 2010

Tanda-tanda ahlak yang baik

Tanda-tanda Ahlak yang baik

Boleh jadi seseorang telah berusaha menata jiwanya, sehingga dia sudah bisa meninggalkan hal-hal yang keji dan kedurhakaan. Kemudian dia mengira bahwa ahlaknya sudah tertata, lalu tidak mau lagi berusaha. Ini tidak benar. Sebab ahlak yang baik itu merupakan kumpulan sifat-sifat orang Mukmin, sebagaimana yang digambarkan Allah swt. dalam firman-Nya, " Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hatinya, dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rizki (nikamat) yang mulia.” ( Q.s. Al-Anfal : 2-4).”
“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang khusyu dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari ( perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka milikki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa yang mencari dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat ( yang dipikulnya ) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shlolatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi surge firdaus. Mereka kekal didalamnya.”
“ Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orrang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka , maka mereka mengucapkan kata-kata ( yang mengandung ) keselamatan.” (Q.s. Al-Furqon : 63)

Keberadaan sifat-sifat ini merupakan tanda ahlak yang baik, dan ketiadaan sifat-sifat ini merupakan tanda ahlak yang buruk. siapa yang kesulitan mengukur dirinya, maka hendaklah ia membandingkan dirinya dengan ayat–ayat ini
Ahlak-ahlak yang baik lainnya adalah, sabar dalam menghadapi gangguan.
Inilah gambaran jiwa yang bisa merendahkan diri berkat latihan, sehingga ahlak mereka menjadi baik dan batinya tidak terkecoh, lalu menghasilkan keridhaan terhadap takdir. Siapa yang tidak memiliki sifat-sifat seperti ini, maka dia harus rajin-rajin melatih diri, yang lama-kelamaan Insya Allah dia bisa mencapainya…Amin.
“ Ya Allah, limpahkanlah taufik kepada kami untuk melakukan apa-apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhoi….Amin.”