Kedurhakaan tidak bisa bergeser dari tempatnya karena niat. Seperti orang yang membangun mesjid dengan harta yang haram, sekalipun memang hal itu dimaksudkan untuk kebaikan. Niat tidak memberikan pengaruh apa-apa. Tujuan kepada kebaikan dengan keburukan adalah bentuk lain dari keburukan. Kebaikan dapat dikenalil keberadaannya sebagai kebaikan berdasarkan ketentuan syariat. Maka bagaimana mungkin keburukan dapat menjadi kebaikan ? Sama sekali tidak bisa.
Siapa yang mendekati penguasa untuk membangun mesjid dan sekolahan dengan harta yang haram, sama seperti mendekati ulama yang buruk, agar ulama buruk ini mengajarkan ilmu kepada orang-orang bodoh dan jahat yang sibuk dengan berbagai macam kefasikan. Kalau pun mereka ini belajar dari ulama buruk itu, sama saja mereka memotong jalan Allah, tidak lepas dari kesibukan keduniaan dan mengikuti hawa nafsu. Semua beban ini akan ditanggung oleh guru mereka, jika sang guru mengetahui niat dan tujuan mereka yang tidak benar.
Karena pertimbangan seperti inilah para pengarang mempelajari berbagai macam kisah. Tujuan mayoritas di antara mereka sudah bisa ditebak, yaitu untuk mendapatkan keduniaan dan harta benda. Pengajaran yang mereka sampaikan juga membantu menciptakan kerusakan. Dengan begitu bisa diketahui bahwa ketaatan bisa berubah menjadi kedurhakaan karena tujuan dan niat. Sedangkan kedurhakaan sama sekali tidak bisa berubah menjadi ketaatan dengan niat dan tujuan. Bahkan jika kedurhakaan ini disertai dengan niat yang buruk, maka dosanya akan semakin berlipat ganda.
" Ya Allah, berikanlah kami Al-Furqan....agar kami bisa membedakan yang baik dengan yang buruk, dan kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari kebodohan dan ketidaktahuan sesungguhnya Engkaulah Tuhan kami yang Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar....."
Minggu, 11 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar