Orang yang tenggelam dalam keduniaan dan terpedaya olehnya, tentu hatinya lalai mengingat mati. Jika diingatkan tentang mati, maka dia merasa tidak suka dan menghindar. Dalam hal ini, manusia ada yang tenggelam, ada yang bertaubat, ada yang memulai dan ada yang sadar dan waspada.
Orang yang tenggelam dalam keduniaan tidak akan mengingat mati. Kalaupun dia mengingat mati, maka dia akan menyayangkan terhadap keduniaan yang belum diraihnya, lalu sibuk mencerca mati. Ingatannya tentang kematian hanya membuatnya semakin jauh dari Allah swt.
Sedangkan orang yang bertaubat, dia banyak mengingat mati untuk membangkitkan ketakutan dalam hatinya, agar dia bisa betaubat secara sempurna. Boleh jadi dia takut mati. karena merasa tabatnya belum sempurna atau sebelum dia memperoleh bekal yang layak. Ketidaksukaannya terhadap kematian masih bisa ditolerir, dan yang demikian ini tidak termasuk dalam sabda Nabi saw. " Siapa yang tak suka bertemu dengan Allah swt, maka Allah swt pun tak suka bertemu dengannya."
Dia takut bertemu Allah swt, karena menyadari keterbatasan dan keteledoran dirinya. Dia tak ubahnya orang yang menunda pertemuan dengan kekasih, karena masih sibuk menyiapkan pertemuan dengan-Nya, agar pertemuan itu benar-benar menyenangkannya. Jadi tidak dianggap sebagai ketidak sukaan terhadap pertemuan itu. Tandanya, dia selalu mengadakan persiapan dan tidak menyibukkan diri dengan urusan lain. Jika tidak, maka dia sama saja dengan orang yang tenggelam dalam keduniaan.
Sedangkan orang sadar selalu mengingat mati, karena kematian merupakan saat yang dijanjikan untuk bertemu sang kekasih. Tentu saja dia tidak lupa saat pertemuan dengan kekasih. Biasanya orang yang seperti itu menganggap lamban saat datangnya pertemuan itu. Dia lebih suka segera lepas dari tempat yang dipenuhi orang-orang yang durhaka, lalu berpindah kesisi Rabbul Alamin, sebagaimana yang dikatakan sebagian diantara mereka. "Sang kekasih datang dari atas sana."
Jadi keengganan orang yang bertaubat terhadap terhadap kematian masih bisa ditolerir. Sementara ada orang lain yang justru mengharapkan kematian. Yang lebih tinggi derajatnya adalah rang yang menyerahkan urusannya kepada Allah st, sehingga dia tidak memilih hidup dan tidak memilih mati untuk dirinya. Cinta semacam ini berubah menjadi kepasrahan dan penyerahan diri. Ini merupakan puncak tujuan
Bagaimanapun juga mengingat mati itu ada pahala dan keutamaan. Orang yang tenggelam dalam keduniaan, mengingat mati justru untuk mendekatkannya kepada keduniaan itu.
Ya Rabb....sadarkanlah diriku bila ku lalai, ingatkanlah diriku selalu dengan cobaan-Mu, bersihkanlah semua kekotoran yang melekat dibadanku terlebih kekotoran yang ada jauh didalam lubuk hatiku yang karena jauhnya sampai-sampai aku tidak melihatnya dan seungguhnya Engkau Tuhanku yang Maha Melihat, dan akhiri hidupku dengan Khusnul khatimah....Amin Ya Rabbal Alamin
Minggu, 11 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar